October 26, 2013

bercerita sendiri mendengar sendiri


Kemarin malam saya bersama beberapa teman menonton sebuah pertunjukan yang digelar Teater Sastra UI di TIM. Alasan datang pada awalnya bukan karena tertarik dengan judul “Selingkuh”-nya atau organisasi yang menggelar, namun karena kebetulan seorang teman bergabung dalam tim produksinya. Atas dasar alasan yang kurang beralasan untuk menyaksikan pertunjukan tersebut, saya tidak sempat melihat teaser atau meng-“kepo”-i hal-hal terkait. Mendapat tiket dengan nomor duduk paling belakang pun tidak menjadi masalah bagi saya.

Saat pertunjukan dimulai saya baru tahu bahwa selama kurang lebih 3 jam ke depan saya akan menyaksikan sebuah pertunjukan multi-monolog. Tentu saya langsung demot dan membayangkan diri saya terlelap di 30 menit pertama, mengingat saya ini orang yang paling cepat mengantuk saat mendengar orang ceramah dan bercerita panjang lebar. So, monolog is out of my league.

Dugaan saya salah, walau tanpa gerak dan perpindahan fisik yang berarti, satu per satu tokoh mampu bermonolog dengan total dan membuat rasa penasaran saya kian kuat untuk menyaksikan hingga akhir. Rasa kantuk tak sempat hinggap bahkan macam satu detik.

Monolog kebanyakan berisi hal-hal vulgar berbau seksual yang menarik dan mencekam. Namun, bukan pesan vulgar dan seksual yang saya tangkap di akhir cerita, monolog-monolog itu hanya digunakan sebagai pengantar pada pesan tersirat yang coba diungkapkan sutradara dan penulis naskah. Mungkin pengantar dibuat berbau seks agar penonton tidak jenuh menyaksikan 7 orang hanya bercerita satu arah sambil duduk selama 3 jam. Mungkin loh ya, tidak tahu persepsi saya ini benar atau tidak karena saya ini bukan pengamat teater, yang jelas seperti itu yang saya tangkap.

Ada 7 tokoh yang beradu acting di panggung yang lumayan besar itu. Ida, perempuan asal Purworejo, dibesarkan dengan pakem keluarga Jawa yang menuntut perempuan harus bisa mengaji, menari, memasak, bertingkah laku ayu dan pada akhirnya akan menjadi istri yang patuh pada suami, pandai mengatur rumah, dan pandai beranak.

Pada suatu hari Ida merantau ke Jakarta dan bertemu Zaki, musisi yang berhasil merebut keperawanannya sebelum menikah, walaupun pada akhirnya mereka menikah. Zaki adalah lelaki yang dari kecil terbiasa dengan rasa sakit sehingga ia berpikir bahwa kebahagiaan muncul dari rasa sakit. Konsep itu yang ia bina dalam membangun rumah tangga. Ida pun hanya bisa menerima dan pasrah, saking pasrahnya sampai ia menganggap dirinya memang bahagia dengan rasa sakit itu.

Kemudian Ida bertemu Hendri, orang Batak yang dimusuhi keluarga karena menolak menikah dengan pariban-nya. Ida menemukan sisi kelembutan dan romantisme dari diri Hendri lalu berselingkuh. Perselingkuhan Ida berakhir dengan kematian tragis ketiga tokoh dengan baku bunuh. Cerita tragis tersebut kemudian menjadi bahan monolog 4 tokoh pembantu lainnya yang berperan sebagai dukun, pengacara, aktivis feminis, serta sutradara sinetron.

Keempat tokoh berbicara mengenai kasus Ida dari kacamata kepentingan masing-masing. Semua tokoh sibuk mengungkapkan tentang diri dan buah pikiran mereka serta pandangan mereka tentang tokoh lain. Mereka seakan-akan bercerita sendiri dan mendengar sendiri pula.

Monolog yang dibangun para tokoh tersebut adalah refleksi dari segala aspek kehidupan, baik politik, sosial, budaya, dan sebagainya, yang sangat individual di negeri ini. Mungkin saya, kamu, dia, kita mengaku berdialog padahal satu-satu saling lempar pendapat tanpa mau mendengar dan memahami orang lain.

Keluar dari tempat pertunjukan, saya dan teman-teman membawa pulang satu pesan moral sebagai bahan intropeksi diri. Semoga benar-benar intropeksi.
Post a Comment