August 22, 2013

rasisme kue kering

Dua hari setelah Lebaran saya menemani ibu menghadiri undangan open house. Di sana kami disuguhkan makanan khas Kaili dan Bugis karena si tuan rumah memang berdarah Kaili-Bugis. Setelah kenyang dengan makanan berat, kami duduk di ruang tengah. Ibu-ibu undangan dan tuan rumah mulai mengobrol dengan gegap gempita. Saya hanya bertindak sebagai pendengar, walaupun sama sekali tidak tertarik dengan topik mereka. Maklum, umur mereka rata-rata di atas 40 tahun dan hanya saya satu-satunya yang berumur 20 tahun. Merasa terperangkap, sudah pasti.

Selang beberapa menit yang rasanya seperti berjam-jam, tuan rumah menyuguhkan beberapa toples kue kering kepada kami. Kebetulan si pembuat kue-kue kering tersebut ada di tengah-tengah kami. Saya cenderung skeptis dengan kue kering selain buatan oma saya. Oma sangat ahli dalam membuat berbagai jenis kue kering dan jarang saya mendapati kue kering yang kualitasnya sama dengan kualitas kue kering oma. “Ah, paling juga rasanya biasa saja”, saya membatin.

Tapi kata ibu-ibu lainnya kue buatan si ibu pembuat kue itu sangat enak. Saya pun mulai berhasrat. Saya coba nastar buatannya, tak dinyana rasaya memang sangat enak dan membuat ketagihan. Terasa jelas kue tersebut dibuat dengan bahan-bahan berkualitas. Tidak hanya nastar, saya mencoba semua jenis kue kering buatannya dan semuanya memberi kepuasan lidah yang sama. Saya jadi merasa bersalah sempat meremehkan kemampuan ibu pembuat kue tersebut.

Ibu saya turut memuji dan tertarik membeli beberapa toples kue kering buatan si ibu pembuat kue. Kemudian ibu pembuat kue berkata, “Iya lebih baik beli sama saya yang orang Muslim, daripada beli sama orang Cina”. Saya terperanjat mendengar kalimat yang dia lontarkan. Menurut saya kalimat itu terlalu tidak pantas diucap, bahkan membatin pun juga tidak.Menggeneralisasi bahwa kue buatan orang Muslim lebih layak dibeli daripada kue buatan orang Cina tidak akan pernah bisa masuk di logika saya sampai kapanpun. Suku, ras, agama, sama sekali tidak ada hubungannya dengan skill seseorang membuat kue.

Kemudian

Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke toko seluler milik ayah sahabat saya di Palu. Kami berteman sejak TK dan bersahabat sejak SMP. Untuk beberapa hal kami sering sepikiran. Ia memiliki rambut hitam se-payudara, kulit putih bersih, dan mata sipit layaknya orang keturunan Cina lainnya. Secara fisik kami sangat berbeda, warna kulit saya kuning langsat dengan mata bolla' kalau kata orang Bugis.

Kebetulan, ada dua orang pegawai toko itu yang juga keturunan Cina. Ketika saya datang, salah satu diantara mereka melihat saya dari atas sampai bawah dengan khusyuk. Saya agak risih, namun masih menganggap hal itu biasa. Mungkin karena dia baru melihat saya.

Hari itu saya berniat menemani sahabat saya menjaga toko berhubung ayahnya sedang di luar kota. Kami menonton reality show asal Korea yang menurut sahabat saya lucu namun menurut saya krik, krik, krik, garing. Di tengah keseruan 'menonton' sambil mengobrol, saya mendapati pegawai yang tadi melihat saya dengan khusyuk sedang menatap saya (lagi). Tatapannya aneh. Sulit dideskripsikan, yang jelas beraura negatif. Saya kemudian menatap dia sebaliknya dengan harapan dia segera memindahkan tatapannya dari saya, berhubung seorang pegawai seharusnya memiliki pekerjaan lain yang lebih penting daripada menatap orang lain. Tak berhasil, dia tetap menatap saya dan membuat saya takut. Saya semakin risih dan ingin menegur, tapi rasanya kasihan mulut saya jika harus berbicara dengan dia yang sudah negatif sempurna di mata saya.

Saya kemudian mengambil telepon genggam sahabat saya dan menceritakan apa yang baru saja saya alami dan saya rasakan tentang pegawainya. Sahabat saya menjawab “Memang begitu”. Baiklah.

Selesai menonton reality show, saya dan sahabat saya mengobrol tentang beberapa hal sampai akhirnya membahas isu rasisme, isu kesukaan kami. Kemudian dia merelasikannya dengan tatapan pegawainya yang saya ceritakan tadi. Kami tertawa geli. Saya berkata “Pasti kalau saya sudah pulang, pegawai itu akan bertanya asal-usul saya dan alasan kenapa orang Cina macam kamu bisa berteman dengan saya.” Sahabat saya menjawab “Tentu saja, you’re hilarious.” Kembali kami tertawa geli.
Post a Comment