March 11, 2013

before 20 y.o effect

Ocehan yang akan cenderung melindur ini susah saya rangkai dengan kata-kata apik untuk dimengerti, pun begitu tetap ingin saya muntahkan. Entah bagaimana awalnya, yang jelas saya cemas. Saya sering cemas, tapi kali ini 'dia' benar-benar sedang memeluk jiwa saya erat. Before 20 y.o effect, mungkin. Saya tahu cemas macam begini akan datang, hanya saja masih terlalu pagi untuk terbiasa dengannya.

Bagaimana tidak, saya sudah dibiasakan manja dengan matahari siang untuk kemudian harus berteman dengan hujan. Saya rindu diri saya yang dulu, masih bau kencur dan tidak tahu apa-apa tapi justru bahagia karena belum banyak mau. Berbeda sekarang, saya seperti dikejar kemauan-kemauan yang memaksa saya berlari tanpa jeda. Entah baik atau buruk, yang jelas saya dibuat sesak.

Inklinasi lainnya, saat ini mulai sulit bagi saya untuk memilih antara opsi hitam dan putih. Semuanya tampak sama, abu-abu. Arah pikir yang mulai bersarang di kepala saya adalah bahwa tidak ada manusia berhati malaikat atau iblis secara absolut. Semua manusia sama, berjiwa manusia dengan kepentingannya masing-masing. Entah bagaimana menyebutnya agar tidak terdengar sinis, hanya saja sudah kaku raga saya untuk setiap waktu berkolektif.

Bisa dibilang ini fase baru, datang mendadak dan tidak menyediakan ruang untuk bersiap-siap, penat saya jadinya. Merasa bengis sudah pasti. Saya ingin tahu apakah semua orang yang akan menginjak usia 20 tahun harus melewati fase macam ini? Fase dimana kamu merasa sudah cukup tua tapi belum berbuat apa-apa, fase ketika kamu lebih jauh menyadari bahwa menjalani hidup ini tidak segampang menghancurkannya, fase ketika baris-baris kalimat motivasi sudah menjadi lapuk dan basi untuk didengar.

Sudahlah, bagaimanapun fase ini, saya masih yakin dengan satu kalimat klise, semua yang saya alami terjadi karena saya akan melaluinya.

cheers!
Post a Comment