Para lelaki, ketahuilah kami wanita
tidak hanya butuh asupan kata-kata picisan seperti “selamat pagi sayang” atau
“semangat kuliahnya sayang” dengan emoticon
peluk atau cium semata. Ya, mungkin kata-kata seperti itu bisa membuat hati
lumayan berbunga-bunga ketika masa-masa
pendekatan dan awal pacaran. Namun, di hubungan pacaran yang lebih lama,
kata-kata itu sebenarnya tidak membantu sama sekali, membosankan, bahkan bisa
jadi menyebalkan. Jadi, jangan heran jika kami membalas kata-kata picisan kalian
tersebut dengan balasan yang singkat dan datar. Seharusnya kalian tahu bahwa we’re not in the mood to be so in love while
texting, stop it then. Sayangnya jarang diantara kalian yang sadar akan
itu, kebanyakan akan membalas “kok balesnya singkat ?” atau “kamu kok sekarang
berubah ?”. Kemudian hal sepele seperti itu akan mendatangkan konflik dahsyat
yang menghabiskan energi secara sia-sia. About
a question why do we change, yes people change darling !
Yang lebih kami butuhkan adalah
kesiagaan kalian ketika kami butuh tempat untuk mencurahkan apapun dan butuh pertolongan
dalam bentuk apapun, kapanpun dan dimanapun secara nyata. Kami tidak butuh BBM
panjang lebar yang intinya hanya menyuruh kami untuk sabar menghadapi segala
cobaan dan masalah. It’s not helping at all, karena kami pun tahu bahwa kami
harus sabar dan tabah tanpa kalian beritahu, itu terlalu klise dan memuakkan
sebenarnya.
Terkait hal tersebut, benar bahwa Long Distance Relationship lebih susah
untuk dijalani. Alasan terpenting yang mendasarinya ialah bahwa pasangan LDR
tidak akan bisa saling menolong dan berpundak satu sama lain secara nyata.
Akibatnya, keterikatan antara keduanya akan semakin kendur karena merasa mampu
berdiri sendiri. Selain hal tersebut, ada beberapa hal lain yang menjadi alasan
susahnya menjalani LDR.
Pertama, jarak yang jauh
mengakibatkan intensitas berkomunikasi secara langsung semakin jarang sehingga
memunculkan missed communication. Komunikasi yang dilakukan secara tidak
langsung terkadang tidak dapat menghantarkan pesan non-verbal dengan baik sehingga sering memberikan makna ambigu pada
proses komunikasi dan merangsang timbulnya konflik. Terutama pada pasangan LDR
dengan tensi yang tinggi, bahkan ketika mobile
network sedang tidak berpihak, pertengkaran pun terjadi. Sebenarnya hal ini
agak konyol. Bayangkan dua orang yang saling menyayangi bertengkar hebat hanya
karena network.
Kedua, perbedaan lingkungan sosial dan
kegiatan yang dijalani oleh pasangan LDR membuat rasa curiga sering muncul
sehingga lama-kelamaan hubungan akan dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif yang
berujung pada pembentukan aturan-aturan yang sifatnya menekan dan membebani,
seperti larangan berteman dengan si ‘A’, larangan pulang malam, larangan
mengikuti organisasi tertentu, dsb. Tidakkah kalian tahu, aturan-aturan
tersebut sebenarnya tidak akan pernah benar-benar dijalani, karena tidak ada
yang bisa membatasi seseorang untuk melakukan apapun yang ia sukai. Sehingga
yang terjadi adalah kebohongan, bahwa seakan-akan peraturan tersebut terpenuhi.
Hal ini semata-mata dilakukan hanya untuk menghindari konflik. Sayangnya,
berbohong terlalu sering akan membuat kebohongan tersebut terbuka juga pada
akhirnya. Seperti pepatah sepandai-pandainya tupat meloncat, toh akan jatuh
juga. Siapa yang tahan berbohong seterusnya ? Siapa yang tahan menjalin
hubungan berlandaskan atas kebohongan ? Ketika kebohongan akhirnya terungkap, pertengkaran
yang terjadi akan semakin besar, menumpahkan lebih banyak air mata dan
mengeluarkan kata-kata yang lebih sakit.
Ketiga, seringkali pasangan LDR
tidak bisa menjaga hati dan mata ketika melihat orang-orang yang dianggap punya
nilai lebih dari pasangannya, ini bisa disebut selingkuh tipis-tipis. Ini wajar
terjadi, bahkan untuk pasangan yang tidak LDR sekalipun. Ketika kamu melihat
ada cowok yang cakepnya minta ampun dengan segudang talenta, apa yang ada di
benakmu sebagai cewek normal ? Tentu
kamu terkagum-kagum. Begitupula pada cowok yang melihat cewek berparas cantik
dengan tubuh seksi dan berperilaku manis, tentu mereka akan memusatkan
perhatian mereka pada cewek tersebut. Ini hal yang normal bukan ? mengagumi
orang lain selain pacar kamu, menurut saya sah-sah saja. Yang salah adalah jika
kemudian kamu berusaha untuk mendekati orang yang kamu kagumi tersebut dan
berniat untuk menjadikan orang tersebut sebagai pacar kedua kamu. Permasalahan
yang akan timbul dari masalah cuci mata ini adalah jika kamu bercerita kepada
pacar LDR kamu tentang cowok/cewek menarik yang kamu temui, lalu mereka
meresponnya secara negatif dan memperlihatkan rasa cemburunya secara berlebihan
sehingga membuat kalian kembali bertengkar. Padahal seharusnya cowok/cewek tahu
bahwa ketika pasangannya menceritakan tentang lawan jenis lain yang mereka
kagumi, artinya mereka telah merasa sangat nyaman dan terbuka untuk
menceritakan apapun kepada sang pacar dan itu berarti orang yang mereka kagumi
benar-benar hanya sebatas kagum, tidak lebih. Seharusnya hal ini bisa ditangkap
secara lebih positif untuk menghindari konflik akibat masalah sepele.
Berdasarkan
tiga alasan utama yang kemudian memiliki banyak percabangan tersebut, yang akan
sangat panjang jika dijabarkan seluruhnya, maka saya setuju dengan perkataan
teman saya bahwa dalam kasus LDR, dari 100% hanya akan ada 5% yang bertahan
sampai pada ikatan akhir hubungan percintaan. 5% itu adalah mereka yang
memiliki cinta sedemikian luar biasanya sehingga mampu bertahan walaupun didera
berbagai permasalahan dan alasan runtuhnya LDR. 5% itu adalah mereka yang
walaupun memiliki cinta yang biasa-biasa saja namun memiliki kedewasaan dan
kebijaksanaan yang sangat besar sehingga lagi-lagi bisa meredakan egoisme
masing-masing dan mengalahkan pelbagai tantangan LDR. 5% itu adalah mereka yang
ditakdirkan bersama.
Cheers !















































